Sekolah-Al-Giva

Beberapa Catatan Mengenai Bambu

Bambu Hitam 2
Rumpun Bambu Hitam

Dalam berkomitmen kepada bahan-bahan alternatif yang memiliki potensi berkelanjutan, sebuah langkah awal yang lantas dapat dilaksanakan adalah meneliti dan menulis. Sedangkan salah satu material alternatif yang memiliki potensi jika dikembangkan dengan baik dan dapat dikaji dari berbagai aspek adalah bambu.

Rangkaian meneliti dan menulis merupakan suatu aksi aktif dan reflektif. Kesempatan berbagi tulisan penelitian di tahun ini hadir pada perhelatan Parahyangan Bamboo Nation 2.  Digagas oleh jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan pertama kali di tahun 2014, acara ini digelar untuk yang kedua kalinya pada akhir Juli 2015. Kalangan mahasiswa menjadi peserta utama dengan kesempatan terbatas dibuka untuk peserta umum, untuk mereka yang tertarik dengan arsitektur bambu. Di antara sekian mahasiswa UNPAR Bandung, PBN-2 diikuti pula oleh para mahasiswa dan arsitek dari Kuala Lumpur, Hanoi, dan Wina. Materi presentasi meliputi sambungan dari Andry Widyowijatnoko, pengawetan bambu dari Purwito Hadiprawiro, filosofi bambu dari Eko Prawoto, hingga preseden arsitektural dari Yenny Gunawan, Markus Roselieb, dan Effan Adhiwira.

Acara utama diadakan di kompleks OBI Jatiluhur, di sekitar balai besar yang dibangun dengan bambu yang dirancang oleh Andry Widyowijatnoko. Acara lanjutan termasuk kunjungan lapangan ke Sekolah Alam Al-Giva Bogor, Kampung Kanekes-Baduy, studio perancangan di UNPAR, dan pembangunan balai warga di Sindangpakuon, Cimanggung-Rancaekek.

Arsitektur Bambu dan Teknologi Tepat Guna: Komunitas dan Keberlanjutan

Sekolah-Al-Giva
Pembangunan sekolah alam Al-Giva di Bogor, Januari 2013.

Bambu sebagai bahan bangunan sudah lama menjadi satu subyek dalam dunia teknologi terapan alternatif, atau teknologi tepat guna. Karena bambu mudah didapat dan terjangkau oleh khalayak. Namun, belakangan ini konstruksi bambu menjadi topik hangat dalam arsitektur. Perkembangan ini tidak lepas dari inovasi pada sambungan dan isu kelestarian lingkungan. Kini publik arsitektur akrab dengan karya internasional Simon Velez, Vo Trong Nghia, dll. Di Indonesia kita saksikan karya Andry Widyowijatnoko dan eksperimen menarik di sekolah swasta Greenschool, Ubud.

Namun demikian, mahasiswa perlu belajar dari hal elementer dalam dunia arsitektur bambu, ini termasuk teori sambungan dan praktek sambungan yang paling sederhana menggunakan baut dan pelat baja. Pengalaman menggunakan sistim sambungan ini diantaranya adalah pembangunan balai warga di Yogyakarta, jembatan pedestrian di Davao, dan sekolah alternatif di Bogor. Lebih mendalam ada di makalah yang ditulis oleh Andrea, Bamboo Architecture for Sustainable Communities.

 

Bambu di Konteks Suburban-Rural: Aspek Ekologi, Ekonomi, dan Sosiokultural

Badaraksa Mapping
Hasil pemetaan partisipatif warga yang menunjukkan sebaran rumpun bambu.

Refleksi mengenai bambu dapat mengundang banyak keingintahuan. Bambu merupakan sebuah tanaman yang membawa isu holistik, tidak hanya dari aspek desain maupun konstruksi, namun juga aspek ekologi, ekonomi, dan sosiokultural. Perjalanan ASF-ID selama satu bulan di Badaraksa Kidul, Jelegong, Kutawaringin, Kab. Bandung, telah menggali penemuan-penemuan awal mengenai keberadaan rumpun-rumpun bambu di konteks suburban-rural kampung tersebut.

Bambu sebagai material berkelanjutan bukanlah ide modern, namun sudah integral dalam masyarakat Indonesia sejak dahulu. Bagaimanakah dinamika yang terjadi di masyarakat? Tantangan apa saja yang dialami oleh masyarakat yang dahulu erat kehidupannya dengan rumpun bambu? Selengkapnya dapat dibaca di makalah yang disampaikan oleh Usie dan Siska pada seminar; Bamboo as Building Material: Early Findings in Badaraksa Kidul Village.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *