Errik - ASFID 2015

Jejaring Mandiri dan Dinamis

Tahun 2017 masih tersisa dua bulan lebih, namun jelas sudah menjadi tahun yang penting dalam perjalanan kumpulan Arsitektur Swadaya dan Fasilitasi (ASF). Sebabnya, dua buah momentum formatur telah terselenggara untuk sebuah prototip wahana kepengurusan nasional: acara Musyawarah 2017 terselenggara pada tanggal 15 Juli di Bandung dan Musyawarah Luar Biasa terselenggara di Bantul pada tanggal 30 September dan 1 Oktober.

Musyawarah 2017

Untuk kedua kalinya musyawarah tahunan diadakan di Rumah KAIL yang terletadi Kampung Cigarukgak, dan ASF-Bandung kembali menjadi tuan rumah penyelenggara. Musyawarah tahun ini menghadirkan pegiat dari ASF-Malang dan ASF-Jakarta serta perwakilan forum Komunitas Arsitektur Semarang yang hadir sebagai pengamat. Acara dibuka dengan sharing antar kegiatan kota, kemudian dilanjutkan dengan laporan pertanggung-jawaban pengurus pertama ASF-Indonesia disampaikan oleh Andrea, Siska, dan Usie. Laporan diterima tanpa catatan dan sidang memutuskan pembubaran pengurus 2015-2017. Atas pertimbangan berbagai hal, sidang memutuskan penundaan acara pemilihan pengurus baru. Lalu sidang memutuskan perlunya penyelenggaraan Musyawarah Luar Biasa, “…selambat-lambatnja diselenggarakan dalam tempo tiga boelan!

Sesi Malam Minggu diisi dengan loka karya tentang pemahaman Mukadimah, Piagam Hasselt, dan dilanjutkan dengan penggalian bahan revisi terhadap Anggaran Dasar. Kedua sesi berlangsung cermat dan khidmat lewat fasilitasi Novada dari ASF-Malang. Sesi tersebut juga diwarnai oleh kehadiran teman-teman pegiat dari berbagai organisasi para-arsitektur; Takefumi, Umbu, Frans Ari, Nico, dan Kanoasa yang bergiat lewat gerakan permakultur Bandung, Kuncup Padi Ilalang, Lembaga Bantuan Hukum, Studio Akanoma, serta Parametr Architecture. Menjadi fasilitator penyelenggaraan dari ASF-Bandung termasuk pegiat muda dan relawan; Alfan, Uji, dan Fathin.

ASF-ID 2017

Musyawarah Luar Biasa

Diselenggarakan di sebuah rumah limasan dengan teras tepi kali serta halaman yang asri, Musyawarah Luar Biasa dihadiri oleh empatbelas pegiat dari wilayah kerja Bandung, Malang, Semarang, dan Jakarta. Sebagai pengamat proses MLB, Russel hadir mewakili kelompok pegiat wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Acara dimulai di sore hari dengan sesi sharing antar kegiatan kota.

Pada kesempatan Musyawarah Luar Biasa, Teman-teman pegiat di Bandung meneguhkan kembali undangan kepada teman-teman pegiat dari kota lain untuk merumuskan arah, bentuk, serta langkah-langkah transformasi menuju model dan relasi baru dalam arah gerakan ASF. Ini melibatkan dua aras pengelolaan kegiatan: kepengurusan pada tataran lokal dan kepengurusan pada tataran nasional. Menjadi perihal utama dalam Musyawarah Luar Biasa ini adalah bagaimana perwakilan pegiat secara kolektif dapat merumuskan bentuk kepengurusan nasional; agar ia menjadi cermin dari kebutuhan dan aspirasi ASF lokal yang mana adalah anggotanya. Tidak lain tidak bukan, ini juga merupakan sebuah konsekuensi dari perkembangan ragam kegiatan dan jumlah pegiat di berbagai lokal, sepanjang kurun waktu dua tahun lebih. Dengan demikian penentuan kriteria, jumlah, dan komposisi perwakilan ASF lokal menjadi bagian utama pembahasan pada sesi malam hari.

Sesi malam difasilitasi oleh Siska dan Usie mengupas satu per satu tiap-tiap elemen yang membangun wahana kepengurusan nasional. Dalam sesi pembahasan, Errik, Ari, Ondang, Raka, dan Hanifati, mewakili kelompok pegiat dari Semarang, secara bulat memutuskan bergabung ke dalam jaringan nasional sebagai ASF-Semarang.

Esoknya, sore hari menjelang berakhir, kelompok memutuskan bahwa rekan pegiat Siska, Robbani, Kamil, dan Hanifati, berturut-turut mewakili kelompok pegiat di Bandung, Malang, Jakarta, dan Semarang, serta Andrea sebagai penyintas dari kepengurusan terakhir, membentuk kepengurusan baru ASF-Indonesia. Sedangkan koordinasi lokal untuk kota-kota tersebut akan dijalankan oleh rekan pegiat Kristoporus, Robbani, Brahmastyo, dan Errik. Terima kasih terkhusus kepada Ivana atas fasilitasi tempat dan naungan untuk Musyawarah Luar Biasa ini… arsitek-arsitek Indonesia, bersatoelah!!!

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *