Melampaui Krisis via Arsitektur Kebencanaan

Rumah Bambu
Pengembangan arsitektur bambu pada rekonstruksi pasca gempa 28 September.

Arsitektur kebencanaan menjadi salah satu pengetahuan yang sangat dibutuhkan dalam mitigasi bencana, khususnya pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pengalaman Architecture Sans Frontières Indonesia (ASF-ID) di Sulawesi Tengah selama hampir sebelas bulan pasca gempa 28 September, menawarkan sebuah refleksi. Sebuah gambaran bagaimana arsitek dituntut mampu membaca konteks dan menformulasikan skema kerja di tengah berbagai keterbatasan.

Rumah Tumbuh Bambu
Desember 2018 setelah berakhir masa tanggap darurat, Robbani bersama rekan-rekan dari Kemitraan dan Karsa Institute melakukan assessment di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi. Setelah meninjau banyaknya rumah dengan kondisi yang rusak sebagian maupun rusak total, diputuskan untuk membangun rumah tumbuh. Merujuk pada assessment yang dilakukan oleh Karsa, diputuskan untuk membangun rumah tumbuh bagi sepuluh keluarga di Bolapapu dan Namo. Termasuk dalam wilayah dengan kondisi paling parah, Bolapapu adalah pusat Kecamatan Kulawi sedangkan Namo terletak sekitar 2,6 km menjelang Bolapapu.

Kedua desa tersebut terletak berbatasan dengan Taman Nasional Lore Lindu. Kegiatan rekonstruksi dikhawatirkan menambah marak penebangan pohon kayu keras untuk keperluan pembangunan rumah. Demikian bambu ditawarkan menjadi alternatif mempertimbangkan asumsi tersebut. Meskipun bambu sebagai bangunan masih perkara awam bagi masyarakat setempat. Pada pertengahan Februari 2019, penulis dan rekan Andrea bergabung dan memulai proses pengadaan dan pengawetan bambu dengan larutan borate dalam konsentrasi ca. 6%. Kemudian ditemukan banyak rumpun, seperti awo toraja (Dendrocalamus asper), walo (Gigantochloa apus), dan awo (Gigantochloa atter). Fleksibilitas dan ketahanan bambu dalam menyalurkan gaya menjadikannya sebagai salah satu material aman gempa. Bambu relatif lebih ringan dari bahan lain sehingga lebih aman saat terjadi goncangan gempa.

Rumah Bambu
Rumah bambu di desa Bolapapu, Kulawi

Selain unsur teknis diatas, tim arsitek juga menggali unsur arsitektur lokal dalam proses desain. Eksplorasi desain oleh Robbani mengadopsi bentuk geometris bangunan adat lobo sebagai bagian dari arsitektur khas Kulawi. Lewat sebuah maket berskala 1:30 desain awal dipresentasikan pertama kali kepada peserta program saat focus group discussion pada 22 Februari. Juga disepakati jadwal pembangunan rumah tumbuh dalam waktu dua bulan. Kemudian masing-masing kelompok desa menunjuk bendahara untuk bersama-sama mengelola dana pembangunan.

Pembangunan rumah tumbuh pertama di Bolapapu dimulai pada 25 Februari. Rencana pembangunan satu rumah yang sebelumnya diperkirakan memakan waktu satu minggu, pada kenyataannya berlangsung sampai dua bulan. Ada beberapa kendala yang memengaruhi kerangka rencana manajemen proyek. Misalnya, sebagian besar peserta program adalah petani serabutan dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga sering absen dalam kegiatan pembangunan. Di Bolapapu, seorang peserta yang memiliki enam anak yang masih dalam asuhan harus mencari penghasilan tambahan dengan bekerja di kebun. Seorang peserta di Namo memerlukan waktu satu bulan penuh untuk persiapan pernikahan anaknya. Demikian pula berbagai kegiatan tradisi maupun seremonial di desa menginterupsi jadwal yang telah disepakati.

Bantuan dirancang dalam bentuk transfer dan pengembangan teknologi dan pengetahuan bambu. Sehingga mutlak memerlukan intensitas keterlibatan peserta. Memasuki bulan ketiga enam unit rumah telah dimulai namun belum satupun ada yang selesai. Sampai tiba waktu tim arsitek untuk rehat lebaran di Jawa. Hingga saat ini, masih ada tiga rumah tumbuh dalam proses finishing secara mandiri. 

Pelatihan Konstruksi
Lokakarya konstruksi bambu bagi penyintas dari desa Namo dan Bolapapu.

Posyandu Desa Boladangko
Sekitar satu setengah kilometer dari Bolapapu terletak Desa Boladangko dimana posyandu akan dibangun, dan masih menggunakan bambu sebagai material utama. Bambu awet yang diproduksi oleh  Bolapapu kemudian disiapkan untuk posyandu tersebut; cikal bakal koperasi usaha bambu mendapat pelanggan pertama.

Bersama rekan Robbani, penulis mengawal proses ini, melibatkan warga desa pada pekerjaan non-bambu seperti: pembuatan pondasi, umpak, pemasangan atap metal, dan peletakan jaringan pemipaan. Dua perajin bambu dari Sleman, Yogyakarta didatangkan untuk mengeksekusi pekerjaan bambu sekaligus melatih kader perajin bambu setempat. Skema ini bertujuan untuk transfer pengetahuan dan memberikan keahlian baru supaya kemudian terbuka lapangan pekerjaan baru di masa mendatang.

Bobot pekerjaan dicacah sehingga memungkinkan penerapan sistem kerja borongan. Dengan demikian mampu mengejar jadwal proyek. Selama prosesnya, proyek posyandu Boladangko berjalan selama satu bulan tanpa kendala berarti, sebagaimana proses pembangunan pada umumnya di kota. Hal tersebut berhasil mengikis pesimisme warga akibat keterlambatan jadwal pada program rumah tumbuh. Selesainya Posyandu Boladangko kemudian meningkatkan semangat kolektivitas warga dalam proses belajar mengolah dan merangkai bambu.

Posyandu Bambu
Posyandu bambu di Boladangko, Kulawi

Sau Singgani di Rogo
Desa Rogo di Kecamatan Dolo Selatan merupakan persinggahan berikut bagi tim. Sebuah desa yang terletak di bibir zona merah likuifaksi. Dalam bahasa Kaili, rogo berarti remuk. Rogo memiliki iklim kering dan berangin sehingga berdebu. Suhu rata-rata siang hari sekitar tigapuluh-empat derajat Celcius. Setelah terjadi likuifaksi, warga merasa lebih sulit mendapatkan air bersih. Kali ini kami bekerja sama dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Skema kerja dari pembangunan posyandu kembali diterapkan pada pembangunan sau singgani, semacam balai warga dalam pengertian setempat. Perajin bambu Akar Bambu Kulawi kini menjadi mentor bagi tiga pemuda Rogo. Sedangkan pekerjaan non-bambu dikerjakan oleh kelompok warga dengan upah yang telah disepakati di antara mereka.

Karena berbagai alasan, community organizer (CO) dari WALHI tidak dapat melanjutkan pekerjaan dan harus meninggalkan lokasi pada bulan kedua. Ini merupakan suatu hal yang tidak dibayangkan oleh warga; para pendamping hadir didukung oleh anggaran terbatas dan tidak dapat selamanya berada diantara mereka. Menanggapi situasi tersebut para arsitek harus beradaptasi dan bersedia mengelola dinamika sosial, yakni menjaga keseimbangan di antara kelompok agama dengan kelompok adat.

Arsitek dan CO suatu hari akan meninggalkan desa, sedangkan peserta dan warga akan tetap tinggal. Demikian relasi antar individu warga harus dijaga. Relasi di antara mereka yang terlibat pekerjaan dengan yang tidak, menjadi hal yang sensitif dan mengundang berbagai potensi konflik. Aspek sosial tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja seperti jika memakai kacamata manajemen proyek. Dinamika sosial menjadi pertimbangan utama dan memengaruhi proses pengambilan keputusan dalam proyek.

Dalam mengantisipasi potensi persoalan sosial, waktu assesment selama seminggu ternyata jauh dari memadai. Seperti terbukti lewat program ini, assesment merupakan bagian yang tidak bisa dipandang enteng dari keseluruhan rancangan program. Kepekaan dan ketajaman pembacaan sosial kemasyarakatan saat assesment pertama akan menentukan keberhasilan program.

Refleksi
Ada alat tukar pada setiap kerja partisipasi baik berupa uang maupun waktu. Pada program rumah tumbuh, partisipan bisa terlibat jika kegiatan berlangsung di luar waktu mereka mencari nafkah. Konsekuensinya, pendamping tidak dapat membuat target penyelesaian secara kaku sebagaimana kerangka manajemen proyek yang baku. Patut dicoba, jika kelompok warga diberi kesempatan menjalankan arisan kerja, yaitu bentuk kerja bergantian yang dilakukan di akhir pekan atau ada waktu yang telah ditentukan untuk secara bergiliran membangun rumah setiap anggota arisan.

Pada proyek posyandu dan sau singgani, adanya upah kerja menjadikan proyek dapat dijalankan sesuai jadwal. Skema tersebut mengurangi resiko keterlambatan jadwal pembangunan. Pendamping dapat memilah paket kerja yang kongruen dengan komponen upah yang dibayarkan.

Proses partisipasi dan pengenalan teknologi alternatif kepada warga penyintas di desa pelosok mengandung tantangan tersendiri. Keilmuan arsitektur pada umumnya tidak mencakup pengetahuan ini. Keterlibatan ASF-ID pada kegiatan rekonstruksi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah melampaui pranata space, form, and order atau site analisys yang selama ini menjadi standar di kampus. Ada berbagai hal harus dipenuhi untuk mencapai arsitektur paripurna; aspek-aspek sosial dan kultural yang menyebabkan seorang sarjana arsitektur tidak lagi berfikir tentang “desain yang seperti apa?” namun “bagaimana desain itu memanusiakan?” Demikian, karena semua profesi dituntut untuk meredefinisi bentuk pengabdiannya dalam masyarakat. ////

Redefinisi Bhakti Ganva

Bhakti Ganva (BG) merupakan program kerja gabungan antara himpunan mahasiswa jurusan Arsitektur dan Teknik Sipil di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung. BG sudah berjalan setidaknya dalam delapan tahun terakhir dan menghasilkan tujuh bangunan yang tersebar di kampung-kampung di Kabupaten Bandung dan sekitar.

Berproses secara dialektis, visi, misi, dan arti BG terus bertambah, berkembang, dan ter-redefinisi setiap tahunnya. Adapun semangat awal BG muncul diantara mahasiswa untuk mencari kegiatan yang positif dan dapat dilakukan secara kolaboratif antar dua jurusan. Dari titik itu kemudian muncul harapan dan cita-cita untuk memajukan kampung-kampung tertinggal yang masih dapat dijangkau dari Bandung. BG membantu dengan cara pembangunan infrastruktur fisik dan mengaplikasikan ilmu yang dipelajari di kampus.

Metodologi Pemberdayaan

Setidaknya sejak tahun 2017, metode yang digunakan BG mencakup penentuan parameter pemilihan kampung vis-a-vis kemampuan yang dimiliki oleh panitia BG di tahun itu. Misalnya, jarak ke kampung dan waktu tempuh dari kampus, ketersediaan tanah wakaf, aksesibilitas untuk mengantarkan bahan bangunan, dan yang terpenting, urgensi masalah yang dimiliki oleh kampung terkait.

Metode Participatory Action Research (PAR) merupakan salah satu cara BG dalam mendapatkan data yang valid untuk kemudian diolah menjadi desain kegiatan. Metode pemetaan PAR pertama didapatkan melalui pengajaran dari Architecture Sans Frontières Indonesia (ASF-ID) yang kemudian dipakai dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan BG. Metode PAR mencakup pemetaan kesejarahan, lingkungan, jadwal mingguan dan bulanan, potensi, dan gambar kampung impian.

Membangun sebuah fasilitas umum tidak dapat lepas dari pengguna yaitu penduduk kampung. Dengan meyakini proses pemberdayaan, BG berharap penyelesaian masalah yang ditawarkan dapat berlangsung terus dan berkembang. Pembangunan dilakukan dengan cara kerjasama bersama warga sehingga menciptakan sense of belonging. Peresmian bangunan dilakukan secara simbolis lewat acara serah terima bangunan sebagai bentuk tanggung jawab BG kepada warga maupun kepada kampus Unpar.

Diagram proses
Diagram proses: survey Kampung (1), analisis/pemilihan kampung (2), penggalian masalah melalui pemetaan partisipatoris (3), perumusan solusi (4), rencana kerjasama multi pihak (5), menyama-ratakan persepsi: Rakbar (6), pembangunan (7), peresmian (8).

Antara Idealisme dan Pragmatisme

Sebuah dilema mesti saya hadapi dalam menjalankan BG; antara target pelaksanaan program dan waktu yang dimiliki kawan-kawan mahasiswa. Keseluruhan jadwal BG harus dapat menyesuaikan batasan waktu yang disepakati oleh kedua himpunan mahasiswa dan administrasi Unpar. Hal ini membuat keseluruhan kegiatan harus terfokus pada jadwal waktu, selain kepada target hasil pembangunan. Secara ideal, BG ingin untuk memberikan dampak yang signifikan dan menyeluruh, tetapi masih fit-in dan sustainable bagi kampung. Beberapa studi kasus berikut ini merujuk pengalaman BG 2017, BG 2018, dan BG 2019.

BG 2017 membangun fasilitas pendidikan anak usia dini (PAUD) dan ruang serba guna di Kampung Pasirpari, Ciwidey. Kampung ini dipilih karena kebutuhan PAUD sudah menjadi masalah sejak lama. Pemetaan dilaksanakan selama empat minggu. Pemetaan menghasilkan tidak hanya fungsi bangunan yang akan dibangun, tetapi juga konsep kampung impian Pasirpari mencakup visi satu dekade kedepan. Kemudian hari masalah muncul pada kepanitiaan. Jauhnya lokasi kampung menyebabkan hanya segelintir mahasiswa yang memiliki waktu dan tenaga untuk menjalankan kegiatan. Namun demikian bangunan PAUD dapat diselesaikan. Selang waktu kemudian warga manambahkan taman bermain dan diketahui adanya kepengurusan PAUD.

BG 2018 belajar dari kekurangan tahun sebelumnya, yakni soal jarak ke lokasi kampung. Di tahun tersebut kedekatan lokasi kampung menjadi parameter utama. Kampung Buntis di Cimenyan hanya memakan waktu perjalanan bolak-balik sekitar dua jam. BG 2018 membangun mushola dan ruang serba guna meskipun kampung ini relatif sudah lebih maju. Parameter lain, seperti konsep bangunan, pengelolaan keuangan, dan timeline juga terpenuhi. Bahkan sangat tepat waktu. Pekerjaan selesai sebelum ujian akhir semester. Kemudian peresmian dan serah terima bangunan kepada kampung diselenggarakan.

PAUD Pasirpari
PAUD Pasirpari

Perubahan dan Adaptasi

Namun, beberapa bulan kemudian didapati jika mushola Kampung Buntis tidak digunakan sama sekali, tidak ada yang mengurus sehingga tampak tidak terawat. Ini adalah situasi yang kontras dengan Kampung Pasirpari yang memiliki sense of ownership terhadap PAUD mereka. Padahal, design-wise, BG 2018 lebih eksploratif pada segi arsitektur, pada aspek bentuk bangunan. Dalam BG 2018 yang terlewat adalah kualitas interaksi dan kerjasama dengan warga Kampung Buntis. Sebuah prasyarat agar warga dapat menggunakan dan memelihara bangunannya. Sebagai catatan, pada 2018 terjadi pergantian periode kepengurusan himpunan yang otomatis menyebabkan perubahan kepanitiaan BG.

Langkah perbaikan dimulai dengan saling memperkenalkan diri lagi, sosialisasi lagi, mencari tahu apa masalah yang membuat warga enggan menggunakan bangunannya. Satu diantara pemasalahan bersumber pada pilihan material; sejak awal banyak digunakan material terekspos terhadap cuaca, misalnya lantai aci, dinding bata roster, penutup anyaman bambu, hingga lubang pada ampig yang menyebabkan burung dan ayam masuk. Perkara tersebut secara satu persatu dicoba dicari jalan tengahnya. Dengan pendekatan sosial, warga Kampung Buntis secara perlahan mulai menerima bangunan mushola, sehingga menjadi bagian dari kegiatan keseharian mereka.

BG 2019 dilaksanakan di Kampung Garung di Cibiruwetan. Kampung Garung tidak memiliki saluran irigasi langsung maupun sumur. Warga mengandalkan sebuah saluran dari mata air yang terletak sepuluh kilometer kearah puncak Gunung Manglayang. Sebagian warga lain harus mengumpulkan uang untuk membeli air dari truk tangki. BG 2019 memutuskan untuk membuat sarana mandi cuci kakus (MCK) yang dilengkapi bak penampungan utama. Sehingga warga kampung secara bergiliran dapat menggunakan toilet dan mengambil air. Fasilitas MCK ini juga memiliki tempat ngariung, duduk bersila berkumpul di lantai atas. Akibatnya MCK menjadi salah satu tempat yang paling sering dikunjungi oleh warga kampung.

Sebagai catatan, BG 2019 memiliki suatu anomali karena masa kerja yang singkat; hanya enam bulan. Sehingga pada tahun tersebut kami dituntut untuk ekstra hati-hati dan mesti melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program di tahun-tahun kebelakang. Kami mencoba memaknai kembali apa yang telah dibangun BG, dan mencoba mencari setiap pelajaran dibaliknya. Artinya, berusaha meredefinisi misi dan visi BG, secara seksama mempelajari apa yang diwariskan oleh kakak-kakak kelas yang sudah lulus atau sudah sulit ditemui.

Buntis
Mushala Buntis

Refleksi dan Langkah Kedepan

Mengetahui adanya bangunan BG yang tidak terpakai oleh warga membuat kami bersikap hati-hati dalam mengelola program dan dalam berinteraksi dengan warga. Kejadian itu membuat kami harus berpikir dua kali sebelum memulai kegiatan pembangunan. Juga muncul pertanyaan, adakah bangunan BG lain yang memiliki nasib yang sama? Maka kami memulai program Revisit yang menekankan aspek evaluasi, pengakuan dan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan. Hal tersebut menjadi syarat sebelum membuat desain program baru. Tidak boleh lagi secara sebelah mata melihat kampung sebatas lahan kosong untuk dibangun.

Pada akhirnya, proyek BG menjadi subyek yang dapat didiskusikan dan dipertanyakan. Misalnya, apakah BG sudah mengaplikasikan ilmu arsitektur dan teknik sipil sebagaimana didapat di ruang kuliah? Bagaimana bentuk pertanggung-jawaban jika jalannya kegiatan tereduksi menjadi sekadar memasang glass reinforced concrete, kaca, dan keramik? Meskipun, secara pribadi saya yakin jika desain adalah bahasa universal. Dan ekspresi kebahagiaan warga kampung juga adalah sebentuk bahasa yang universal. ///

Otentisitas dalam Kerja Kemanusiaan

Redefinisi Pengabdian 04
Sore hari, Sabtu 14 Maret 2020 telah berlangsung diskusi dengan judul Redefinisi Pengabdian Profesi.  Diskusi ini merupakan kali ketiga pada rangkaian kegiatan reguler dalam kerjasama antara ASF-BDG dengan Ikatan Arsitek Indonesia cabang Jawa Barat (IAI-JB) yang mengambil tema sosial, lingkungan, perkotaan, dan kebencanaan. Bertempat di sekretariat IAI-JB, tiga pembicara dari latar belakang mahasiswa, arsitek, dan pekerja kemanusiaan berbagi sudut pandang berkaitan dengan kegiatan pengabdian dan kemanusiaan.  Pemapar pertama adalah Josephine Livina mewakili kelompok Bhakti Ganva. Kemudian Rakha Puteri Shonigiya dari Architecture Sans Frontières Indonesia (ASF-ID) dan ditutup oleh Zulkifli dari KUN Humanity System+ sebuah organisasi kemanusiaan yang multidisiplin.

Redefinisi Pengabdian 01

Josephine menjelaskan pengalamannya tentang sebuah program kerja yang berfokus pada pembangunan fasilitas umum dan sosial di lingkungan pedesaan dengan melibatkan masyarakat setempat. Program kerja Bhakti Ganva telah berlangsung di berbagai desa sepanjang tahun 2013-2019.  Metode partisipatif dilakukan oleh Bhakti Ganva sebagai upaya mengungkapkan masalah-masalah secara otentik. Musyawarah warga menjadi sumber informasi secara langsung. Lebih lanjut, kegiatan pengabdian mahasiswa harus disertai dengan rasa kepemilikan dari masyarakat kampung maupun dari mahasiswa. Josephine menekankan bahwa esensi pengabdian profesi bukan “apa” namun “mengapa.”

Presentasi kedua, Rakha Puteri Shonigiya menceritakan pengalaman pengabdian profesi dari sudut pandang arsitek.  Di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah ASF-ID bekerja sama dengan Kemitraan (Jakarta) dan Karsa Institut (Palu) untuk membangun sepuluh rumah percontohan, posyandu, dan balai warga, keseluruhannya berbahan bambu setempat. Terdapat perbedaan dalam proses dan tantangan antara menjalankan program rumah dengan pengembangan fasum, terutama terkait jadwal pembangunan dan bentuk partisipasi para penyintas.  Program ASF-ID untuk rekonstruksi Sulteng berlangsung dari bulan Februari sampai November 2019.

Redefinisi Pengabdian 02

Zulkifli selaku pegiat organisasi KUN Humanity System+ membahas tentang arsitektur operasi kemanusiaan yang menjadi acuan dan diadopsi secara universal. Dipaparkan suatu tinjauan singkat tentang aspek-aspek kunci yang mempengaruhi inovasi dalam konteks operasi kemanusiaan.  Beliau menjelaskan bahwa “Perkerjaan yang dilakukan tampak rumit dan sulit dinavigasi jika baru terlibat dalam aksi kemanusiaansangat penting untuk memiliki pemahaman yang baik tentang pekerjaan ini supaya efektif dalam tujuan kemanusiaan. 

Sesi diskusi dipandu oleh Andrea Fitrianto dari Badan Pengabdian Profesi, Ikatan Arsitek Indonesia. Ibu Diana dari latar belakang pendidikan arsitektur menanyakan bagaimana cara membangun kepercayaan dan mengundang partisipasi warga setempat sehingga mau melakukan pembangunan bersama-sama.  Josephine merespon bahwa salah satu langkah awal untuk memenangkan kepercayaan warga adalah dengan memilih kampung yang warganya memang membutuhkan bantuan. Jika hat tersebut diperoleh maka akan berdampak langsung pada keberlanjutan bangunan dimasa depan.

Kemudian ada Bima yang bertanya mengenai cara bekerja sama dan berkomunikasi dengan komunitas setempat. Pertanyaan ini dijawab oleh Rakha dengan menceritakan pengalamannya saat menyelesaikan pembangunan di Sulawesi Tengah.  Masyarakat di Sulawesi Tengah pada umumnya memiliki lembaga-lembaga sosial-kultural yang mereka percayai. Misalnya, di desa Bolapapu lembaga adatnya cukup kuat, sehingga ketua RT dan RW desa tersebut merupakan bagian dari lembaga adat juga.  Sedangkan di Dolo Selatan, yang lebih kuat adalah lembaga agama. Disana pegiat bekerja erat dengan pemuda masjid dan pemuka agama. Dengan mengetahui bentuk kelembagaan yang terdapat di desa, maka pegiat dan masyarakat dapat merumuskan term of reference dan pola kerja sama.

Redefinisi Pengabdian 03

Pertanyaan terakhir datang dari Fiqih seputar ketepatan pilihan metode dan peran pegiat supaya masyarakat tidak tergantung terhadap bantuan yang diberikan.  Zulkifli menjelaskan bahwa setiap non-governmental organization yang memutuskan untuk mendampingi desa selayaknya menyiapkan program yang berkelanjutan. Kemudian, pegiat harus membuat program yang sesuai dengan kemampuan warga, atau istilahnya merancang program yang communitybased. Ketika program dirancang dan dijalankan oleh masyarakat, maka peran pegiat adalah sebagai fasilitator. Hal ini niscaya akan berpengaruh positif terhadap penerimaan warga dan kesinambungan program kerja. Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa. ////////

 

Tadulako: Arsitektur Tanpa Batas

Arsitektur Tanpa Batas
Arsitektur Tanpa Batas

Kuliah Tamu: Arsitektur Tanpa Batas
Andrea Fitrianto & Rakha’ P. Shonigiya

Rabu, 20 Pebruari 2019
Jurusan Teknik Arsitektur
Universitas Tadulako, Palu

Architecture Sans Frontières Indonesia (ASF-ID) adalah organisasi non-profit bertujuan memberi wawasan sosial kepada para arsitek maupun mahasiswa, melalui wacana maupun aksi arsitektural.

Ngariung & Botram

Ngariung & Botram
Ngariung & Botram

Ngariung & Botram*
Untuk kamu yang pernah bergiat atau mau kenal lebih dekat dengan ASF-ID.
Sabtu, 6 Mei 2017 Pukul 15:00 – Selesai
Jl. Kota Baru No.32A. Bandung

Peminat dimohon RSVP dengan mengisi Angket Relawan.
Kontak: 0812-2446-4494 (Atika)

*) Inisiatif ASF-Bandung menyambut Hari kumpul Relawan bersama Architecture Sans Frontières Indonesia